Siang yang begitu panas tiba-tiba berubah menjadi berawan tebal.. Angin yang semula santai menyentuh kulitku dengan santun dan halus kini berubah menjadi kencang yang tak bersahabat. Dingin dan mencekam. "Ahhhh...." Dalam batin kuucapkan. Namun apa boleh buat, memang setiap perubahan ini telah diaturNya. Aku hanya bisa menerimanya.
Kuusap keningku yang tadinya penuh dengan keringat. Yah, karena aku tadi lari dengan terburu-buru. Rutinitas biasa, terlambat untuk mengejar kereta yang datang. Tak seperti biasanya yang aku selalu ada teman. Kini aku berangkat sendirian saja. Biasanya santai, tapi kini terburu-buru karena aku sudah telat.. "Huft kebiasaan buruk mulai lagi" Pikirku.. Begitu susah menghapus kebiasaan buruk itu. Yah, malas, itulah hal yang biasa kulakukan. Sering mengulur-ulur waktu karena kadang masih ada waktu lain untuk mengerjakannya.
Kesendirian kulalui di dalam kereta. Hanya celingukan kiri-kanan yang bisa kulakukan. Berharap akan ada teman yang bisa kutemukan di sana. Ah... ternyata tidak. tak seorang teman kutemukan. Kebetulan waktu itu kereta baru berjejal penumpang. Apa boleh buat. Aku berdiri sepanjang perjalanan.
Kuingat-ingat pesan kakakku "Teruslah kamu berdoa sepanjang jalan. Sungguh Allah bersamamu dan akan memberikan kelapangan padamu". Hanya itu yang bisa kulakukan. Andai ada teman, mungkin aku takkan kesepian.
Sambil menatap jauh di luar, aku mendengar sebuah suara alunan lagu jalanan. Yah, siapa lagi kalau bukan pengamen. Itulah yang selalu kulihat dalam kereta itu. Kadang anak kecil, kadang orang dewasa, kadang orang cacat, dan... ahhh banyak sakali. Bingung kadang ak melihatnya. Tak kuasa mata ini memandang gerak mereka yang begitu sabar. Sabar menerima keadaan mereka. Berat hati ini untuk terima semua ini. Kadang aku berpikir "Mengapa mesti seperti ini ?? Kenapa begitu jauh jarak pisah mereka ?? Apa yang mereka lakukan di atas sana ? Tidakkah mereka tahu apa yang terjadi di sini ? Tidakkah mereka paham nasib orang itu ??"
Sepanjang jalan aku hanya bisa diam dan membisu. Hanya ucapan maaf yang bisa kuberikan pada mereka. Dan secercah senyum yang dibalasnya dengan senyuman pula.
Dalam hati aku berkata "Betapa sabar hati mereka menerima semua ini. Betapa hebat jiwa mereka yang masih mau berusaha meski kekurangan nampak dalam diri mereka. Sedang aku ? Sedang apa aku ini ? Berdiri diam tanpa arti. Seperti patung yang tak bernyawa dan bernyali."
Tak pernah kulihat keluh kesah dalam diri mereka. Tapi aku, dengan segala nikmat yang telah diberikanNya aku masih selalu mengeluh. Masih selalu merasa kurang. Ah Begitu serakahnya diriku dengan kenikmata yang semu..
Waktu terus berjalan. Tak terasa 7 stasiun telah kulewati. Dan aku harus turun. Sampai luar stasiun kususuri jalan yang begitu ramai. Yah, berjejal mobil-mobil pribadi, angkutan umum, baik mikrolet, bus, metromini, bajai, maupun ojek yang selalu mangkir di pinggir jalan menunggu penumpang dan menawarkan diri. Santai saja aku melewati hiruk pikuk kendaraan itu. Jalan kususuri dengan berjalan kaki melalui trotoar sempit. Udara berdebu kadang berhembus, membuatku terbatuk-batuk. Sejauh setengan kilometer aku berjalan dari stasiun itu salah satu terminal kecil kucapai. Melalui kejauhan nampak macet kendaraan yang begitu panjang. Angkutan umum telah mengantri di pinggiran untuk berangkat. Mondar-mandir sana-sini. Itulah angkot yang ada. Membuat jalur macet karena seenaknya saja berhenti. Bahkan surat peringatan petugas lalu lintas pun tak dapat mengubah kebiasaannya.
Kunaiki salah satu metromini yang sudah siap berangkat agar aku tidak menunggu terlalu lama. Setelah cukup padat penumpang, akhirnya jalan juga. Huft "Panas sekali" pikirku. "Mana tak ada angin, penumpang penuh, udaranya berdebu lagi." Cukup lama dalam antrian keluar terminal, akhirnya keluar juga. Melewati sebuah tanjakan tinggi, flyover dapat kulihat betapa banyak antrian angkutan umum yang ada di terminal tadi. Puluhan bahkan mungkin lebih dari seratus angkutan kecil sejenis mikrolet dan lebih dari 50 bus. Hmmm banyak sekali...
Sepanjang jalan masih kuingat-ingat kata kakakku tadi. "Harus berdoa". Maka itu kulakukan terus di sana. Dalam angkutan, meskipun mata selalu celingukan kesana-kemari melihat sekitar yang begitu ramai. Macet. Bunyi klakson kendaraan berlomba-lomba menyegerakan para pengendara untuk segera maju. Yahhhh inilah kebisingan kota ini. Tak sebagaimana cerita kawanku di negeri sakura. Satu kalimat yang aku benar benar ingat " Tak usah aku bunyikan klakson. Tak usah pula aku berteriak-teriak untuk menyegerakan. Saatnya nanti akan tiba giliranku untuk melaluinya". Bahkan d negeri yang lain, begitu besar penghormatan pengendara kepada para pejalan kaki. mereka dipersilahkan untuk menyeberang terlebih dahulu, baru kendaraan lewat setelahnya.
Sungguh bangga bila negeri ini punya adat yang seperti itu.
HIngga akhir perjalanku hanya satu yang bisa ku tahu dari itu. Kesabaran itu benar-benar mahal harganya. Tak terhitung betapa besar karuniaNya dengan kesabaran.
"Sungguh Allah bersama orang-orang yang sabar"
dan
"Maka setelah kesulitan akah ada kemudahan"
Saudaraku semua, mungkin ini secuil untaian kata dari pengalaman dalam rantauan. Aku tidak tahu bagaimana cara menuliskannya. Dan aku juga tidak tahu bagaimana cara membuat alur cerita yang indah. Kritik dan sarannya ya...
18 Februari 2010
Kala pagi datang dengan cekaman dingin yang menghujam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar